Densus 88 Ungkap 110 Anak Direkrut Kelompok Radikal, Rekrutmen Lewat Game Online
JAKARTA,matajitunews.co.id,(20 November 2025) – Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengungkap temuan mencengangkan terkait upaya perekrutan kelompok radikal di Indonesia. Tak kurang dari 110 anak diketahui telah direkrut dan diarahkan untuk terlibat dalam aktivitas ekstremisme. Bahkan, sebagian dari mereka diduga telah disiapkan untuk melakukan aksi teror di sejumlah wilayah.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengungkap data tersebut dalam konferensi pers pada Selasa (18/11/2025). Menurutnya, jumlah itu merupakan lonjakan tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Pada tahun ini, 2025, kurang lebih lebih dari 110 anak teridentifikasi,” jelas AKBP Mayndra.
Tidak berhenti di situ, ia juga menyebutkan bahwa angka tersebut meningkat drastis jika dibandingkan dengan temuan sepanjang 2011 hingga 2017, di mana Densus 88 hanya mengamankan 17 anak terkait aksi teror. Kenaikan tersebut menandakan adanya pola baru dalam penyebaran paham ekstremisme yang kini menyasar generasi usia belia.
Baca Juga : Cegah Ekstremisme, Polda NTB Gandeng Tokoh Agama Gelar Seminar Deradikalisasi
Menurut dia, media sosial dan game online menjadi pintu masuk utama para perekrut dalam menjaring anak-anak. Ruang digital yang luas dan sulit dikontrol memberi peluang besar bagi kelompok radikal untuk menyusupkan propaganda.
“Ada proses yang sangat masif dilakukan melalui media daring, termasuk game online,” ujarnya.
Modus perekrutan pun beragam, mulai dari pendekatan interaktif, pemberian “misi”, hingga manipulasi psikologis melalui permainan yang mereka mainkan. Anak-anak yang masih rentan secara emosional dianggap menjadi target paling mudah untuk dipengaruhi.
Temuan ini menguatkan peringatan bahwa dunia digital kini menjadi salah satu arena paling rentan bagi infiltrasi ideologi ekstrem. Densus 88 memastikan akan terus memperluas pemantauan serta bekerja sama dengan berbagai platform digital untuk mencegah perekrutan berlanjut.
Hingga saat ini, polisi masih mendalami jaringan yang terlibat dalam praktik perekrutan tersebut, termasuk kemungkinan adanya kelompok baru yang memanfaatkan ruang virtual sebagai basis pengembangan anggota.(MJ)
Komentar
Posting Komentar